MENGEMBALIKAN RUH KE DALAM TUBUH HUKUM: CATATAN PENULIS TENTANG ETIKA KONSTITUSI

Buku setebal 500 halaman ini Etika Konstitusi: Rekonstruksi Hukum Nasional Berbasis Pancasila dan UUD 1945 bukan sekadar karya akademis biasa. Bagi saya, buku ini adalah sebuah kegelisahan yang dituangkan ke dalam tulisan. Sebagai orang yang lama bergelut di dunia hukum dan jurnalistik, saya melihat hukum kita saat ini sering kali terasa kering, kaku, dan jauh dari rasa keadilan yang nyata.

1. Memutus “DNA Penjajah” dalam Hukum Kita

Hingga saat ini, nalar hukum Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh warisan kolonial. Kita sering bangga dengan tumpukan undang-undang yang rumit, namun lupa pada nilai-nilai asli bangsa. Buku ini hadir untuk mendorong dekolonisasi hukum—artinya, kita harus berani memutus cara berpikir penjajah dan kembali ke jati diri bangsa yang berlandaskan Pancasila (Saputra, E. T. Hadi, 2026).

2. Menjadi Kompas bagi Legislasi di DPR

Saya ingin buku ini menjadi panduan praktis bagi para anggota DPR dalam merancang undang-undang. Saat ini, kita mengalami fenomena “obesitas regulasi”—terlalu banyak aturan tapi kualitasnya rendah. Melalui buku ini, saya menawarkan parameter etis agar setiap produk legislasi tidak hanya sah secara prosedur, tetapi juga memiliki moralitas yang kuat. Tujuannya jelas: agar undang-undang yang lahir di Senayan benar-benar berpihak pada rakyat, bukan kepentingan segelintir elit.

3. Panduan Gugatan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi

Bagi para praktisi hukum dan masyarakat yang mencari keadilan di Mahkamah Konstitusi (MK), buku ini menyediakan pisau analisis untuk menguji sebuah undang-undang. Kita tidak boleh hanya melihat teks pasal demi pasal secara kaku. Kita harus melihat apakah sebuah aturan bertentangan dengan “ruh” atau original intent dari para pendiri bangsa (Saputra, E. T. Hadi, 2026). Buku ini membantu merumuskan argumentasi hukum yang lebih mendalam dalam perkara judicial review.

4. Metode Menguji “Amanat Konstitusi”

Bagaimana kita tahu sebuah aturan itu benar atau salah menurut Konstitusi? Dalam buku ini, saya mengusulkan tiga cara pengujian sederhana:

  • Uji Nilai Dasar: Apakah aturan ini manusiawi dan adil?
  • Uji Tujuan: Apakah aturan ini membuat rakyat makin sejahtera atau justru makin susah?
  • Uji Hukum yang Hidup: Apakah aturan ini sesuai dengan adat dan keyakinan yang hidup di masyarakat Indonesia?

Hukum tanpa etika hanyalah jasad tanpa nyawa. Saya berharap buku ini bisa membantu kita semua—pemerintah, penegak hukum, dan rakyat—untuk membangun kembali sistem hukum yang punya “hati” dan benar-benar berdaulat.

Sitasi:

Saputra, E. T. Hadi. (2026). Etika Konstitusi: Rekonstruksi Hukum Nasional Berbasis Pancasila dan UUD 1945. Jakarta: Serba University Press.

spot_img

Explore more

spot_img

Vox Populi, Vox Dei: Mitos yang Menyesatkan Konstitusi

Salah satu frasa yang paling sering disalahgunakan dalam wacana politik dan ketatanegaraan Indonesia hari ini adalah Vox Populi, Vox Dei—suara rakyat adalah suara Tuhan....

SOUND OF BOROBUDUR: Ketika Batu Bisa Bicara dan Menggemakan Suara Jiwa

JANGAN KIRA BOROBUDUR CUMA UNTUK SELFIE Kita sering sekali melihat Candi Borobudur hanya sebagai destinasi wisata kelas dunia. Tumpukan batu untuk berfoto, titik. Padahal, ada...

Beda 10 Tahun Lipat 10 Kali: Malapetaka Hilangnya Batasan Harga

Kita memang bangsa yang senang serba fantastis. Angka fasilitas pejabat selalu melonjak tanpa permisi. Dulu ada batasan harga masuk akal. Sekarang tak masuk akal. Lihat...

Jebakan Data Pribadi Spesifik di Ruang Publik

ET Hadi Saputra, SH Jakarta 30 Oktober 2025. Kita berada dalam ilusi kebebasan berekspresi. Di era 'Post-Privacy' ini, gawai di tangan seolah memberikan kita mandat...

Pahitnya Whoosh: Tipuan Bunga dan B2B

Anda lihat Whoosh melaju. Keren, gagah, melesat 350 kilometer per jam. Kita bangga. Ada 'kebanggaan nasional'di sana. Tapi, saya selalu percaya, kebanggaan sejati diukur...

Australia-PNG (Perjanjian Pukpuk)

Australia dan Papua Nugini (PNG) telah mengukuhkan ikatan historis mereka dengan penandatanganan Perjanjian Pertahanan Timbal Balik, yang secara tidak resmi dikenal sebagai Perjanjian Pukpuk...

Daniella Weiss: “Ibu Baptis” yang Menari di Atas Kuburan Hukum Internasional

Daniella Weiss itu seperti perunggu. Keras, dingin, dan nyaris tak mungkin dibentuk ulang. Dia bukan politikus biasa. Dia adalah ideologi yang berjalan. "Ibu Baptis"...

Tukang Kritik

Sudah terlalu banyak kita punya tukang kritik. Mereka rajin. Pagi, siang, malam. Media sosial dipenuhi suara-suara sumbang, keluhan yang itu-itu saja, atau analisis sepotong...